indonesiakusatu.com – Pensiun, Awal Sebuah Petualangan, Pensiun bukan berarti berhenti berkarya dan menikmati hidup. Bagi saya, pensiun justru menjadi awal dari sebuah petualangan baru. Setelah pensiun dari Direktorat Jenderal Pajak pada tahun 2013, kegiatan yang sebelumnya banyak diisi dengan pekerjaan mulai bergeser. Sebelum mengenal dunia sepeda, saya lebih dahulu menikmati olahraga golf. Namun, kemudian saya menemukan kesenangan baru: bersepeda.
Perjalanan itu dimulai dari kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Awalnya, kami hanya beberapa orang yang bersepeda bersama. Seiring waktu, satu demi satu teman bergabung. Ada pensiunan TNI dan Polri, termasuk para jenderal, rekan-rekan dari Imigrasi, mantan pejabat daerah di bidang kehutanan, pengusaha, serta teman-teman dari berbagai latar belakang profesi. Di atas sepeda, semua terasa sama. Tidak ada pangkat, jabatan, ataupun status sosial. Yang ada hanyalah persahabatan, kebersamaan, dan semangat mengayuh.
Dari kebersamaan itulah lahir nama TAWES MASGOTO â Makan, Gowes, dan Foto-foto.
Sebuah komunitas yang bukan sekadar tempat berolahraga, melainkan juga ruang untuk membangun persaudaraan, berbagi cerita, menikmati perjalanan, dan mengabadikan kenangan.
Ada satu ungkapan yang selalu terasa cocok dengan perjalanan kami:
âSatu Sepeda, Seratus Teman.â
Sebab, dari satu sepeda, kita bisa menemukan begitu banyak sahabat, pengalaman, dan cerita kehidupan.
Dari TMII Menjelajahi Nusantara
Perjalanan bersepeda kami terus berkembang. Pada awalnya, kami menggunakan sepeda Federal. Seiring perkembangan waktu dan minat masing-masing, kami mulai mengenal MTB, road bike, hingga sepeda Selly. Bersepeda tidak lagi sekadar mengayuh di sekitar TMII. Kami mulai melakukan touring ke berbagai daerah, mengunjungi objek-objek wisata, menikmati keindahan alam, mengenal budaya setempat, dan sesekali menaklukkan jalur pegunungan.

Selain touring, kami juga mengikuti balapan sepeda setiap hari Sabtu di kawasan Sudirman serta berbagai event bersepeda di luar daerah. Setiap kegiatan menghadirkan pengalaman dan tantangan yang berbeda. Bagi kami, touring bukan sekadar memindahkan sepeda dari satu kota ke kota lain. Setiap perjalanan selalu menghadirkan cerita. Ada semangat ketika memulai perjalanan, perjuangan saat menghadapi tanjakan, kegembiraan ketika tiba di tujuan, dan kehangatan saat berkumpul bersama setelah kayuhan berakhir.
Cerita di Balik Setiap Kayuhan: Tanjakan, Tawa, dan Persahabatan
Dalam perjalanan menuju kawasan Wanayasa, misalnya, jalan berkelok dan tanjakan menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi. Setiap pesepeda memiliki kemampuan dan irama kayuhan masing-masing. Ada yang melaju dengan mantap, ada pula yang harus memperlambat kayuhan untuk mengatur napas. Di sinilah kami belajar bahwa bersepeda bersama bukanlah perlombaan untuk menjadi yang tercepat. Yang penting adalah menikmati perjalanan, menjaga keselamatan, dan memastikan kebersamaan tetap terpelihara.
Ketika perjalanan terasa berat, semangat dari teman-teman menjadi penyemangat tersendiri. Tanjakan yang semula menguras tenaga akhirnya menjadi bagian dari cerita yang dapat dikenang sambil tertawa setelah perjalanan selesai.
Perjalanan ke Sukabumi dan Salabintana juga memberi warna tersendiri. Suasana alam dan udara yang sejuk menjadi kesempatan untuk menikmati kayuhan dengan lebih santai. Sesekali kami berhenti untuk menikmati pemandangan, berbincang, dan berfoto bersama.
Tidak semua momen harus dikejar dengan kecepatan. Terkadang, berhenti sejenak justru membuat kita lebih menghargai perjalanan.
Begitu pula ketika mengunjungi Kawah Putih. Keindahan alam menjadi daya tarik tersendiri setelah menempuh perjalanan. Sepeda mungkin menjadi alasan kami berangkat, tetapi pengalaman menikmati tempat-tempat seperti ini membuat perjalanan terasa lebih berarti.

Perjalanan ke luar Jawa pun membawa pengalaman yang berbeda. Di Ambon, kawasan Gunung Nona menjadi salah satu tempat yang menambah warna dalam catatan perjalanan kami. Bersepeda di daerah yang jauh dari keseharian mengajarkan kami untuk melihat Indonesia lebih dekat. Setiap daerah memiliki pemandangan, suasana, dan karakter perjalanan yang berbeda.
Namun, kenangan touring tidak hanya tercipta di jalan. Sering kali, cerita paling menyenangkan justru muncul ketika kayuhan selesai. Saat berkumpul untuk makan, kami saling bertukar pengalaman, membicarakan tanjakan yang terasa berat, berbagi cerita, dan mengenang berbagai kejadian selama perjalanan.
Di situlah makna TAWES MASGOTO â Makan, Gowes, dan Foto-foto benar-benar terasa. Makan menjadi kesempatan mempererat kebersamaan, gowes menjadi jalan untuk menjelajahi tempat-tempat baru, dan foto-foto menjadi pengingat bahwa kami pernah berbagi perjalanan yang sama.
Bertahun-tahun kemudian, ketika foto-foto itu dilihat kembali, yang muncul bukan hanya ingatan tentang lokasi atau jarak yang ditempuh. Ada wajah teman-teman, tawa yang pernah terdengar, dan rasa syukur karena pernah mempunyai kesempatan menikmati perjalanan bersama.
Dari Jawa hingga Papua: Mengayuh, Menjelajah, dan Menikmati Alam
Perjalanan TAWES MASGOTO membawa kami ke berbagai wilayah di Indonesia. Dari Jawa hingga Sumatra, Sulawesi, Maluku, dan Papua, setiap daerah menyimpan cerita tersendiri. Di Pulau Jawa, kami menjelajahi Solo, Yogyakarta, Bandung, Purwakarta, Wanayasa, Sukabumi, Salabintana, Banten, Semarang, Salatiga, kawasan Baduy, dan berbagai tempat lainnya.
Sukabumi dan Salabintana menawarkan suasana alam yang menyegarkan. Wanayasa menghadirkan pengalaman bersepeda dengan udara sejuk dan panorama alam yang indah. Kawah Putih menjadi salah satu tujuan dengan pemandangan yang khas.
Di Sumatra, kami menjelajahi Medan, Binjai, dan kawasan Pura Langkat. Perjalanan ini memperkaya pengalaman sekaligus mempererat persahabatan di antara anggota.
Petualangan kami juga menjangkau Manado, Makassar, Ambon, dan Papua. Di Ambon, Gunung Nona menjadi salah satu tempat yang membekas dalam ingatan. Keindahan alam dan suasana perjalanan membuat setiap kayuhan terasa istimewa. Kami juga mengikuti touring ke berbagai objek wisata dan jalur pegunungan. Perjalanan tersebut memberikan kesempatan untuk menguji kemampuan, menikmati alam, dan merasakan kebersamaan di luar rutinitas sehari-hari.
Setiap perjalanan membawa cerita tersendiri: perjuangan melewati tanjakan, pemandangan yang memanjakan mata, foto bersama di tempat-tempat indah, hingga kebersamaan ketika beristirahat dan makan setelah menempuh perjalanan. Bagi kami, touring bukan hanya soal jarak yang ditempuh atau seberapa jauh roda berputar. Touring adalah kesempatan untuk melihat Indonesia lebih dekat, menikmati alamnya, mengenal tempat-tempat baru, dan memperluas persaudaraan.
Kami belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu ditemukan di tempat yang jauh atau dalam kemewahan. Terkadang, kebahagiaan hadir ketika kita berhenti sejenak, menikmati pemandangan, bercanda dengan teman, lalu kembali mengayuh bersama.
Balapan Sabtu di Sudirman dan Event di Luar Daerah.
Selain touring, kegiatan bersepeda kami juga diwarnai balapan setiap hari Sabtu di kawasan Sudirman. Kegiatan ini memberikan tantangan tersendiri, menguji stamina, kedisiplinan, dan semangat untuk terus menjaga kebugaran. Kami juga mengikuti berbagai event bersepeda di luar Jakarta. Dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya, pengalaman bertambah dan lingkaran pertemanan semakin luas. Bagi kami, bersepeda bukan semata-mata mengejar kemenangan atau menjadi yang tercepat. Ada kepuasan saat mampu menyelesaikan tantangan, ada kegembiraan ketika bertemu komunitas lain, dan ada kebanggaan karena dapat tetap aktif serta sehat. Pada akhirnya, setiap balapan dan touring selalu menyisakan sesuatu yang lebih berharga daripada hasil akhir: pengalaman, persahabatan, dan kenangan.
Ketika Pandemi Mengubah Kebersamaan
Kemudian datanglah pandemi COVID-19. Aktivitas bersepeda bersama, touring, dan berbagai kegiatan komunitas terpaksa berhenti untuk sementara waktu. Kebiasaan berkumpul dan mengayuh bersama tidak lagi bisa dilakukan seperti dahulu. Setelah pandemi berlalu, aktivitas bersepeda mulai kembali, tetapi suasananya tidak sepenuhnya sama. Banyak di antara kami akhirnya memilih bersepeda secara mandiri, dengan rute, waktu, dan teman masing-masing.
Kebersamaan yang dahulu begitu ramai perlahan berubah menjadi perjalanan individual.
Namun, persahabatan yang sudah terbangun tidak serta-merta hilang. Kenangan touring, foto-foto perjalanan, cerita lucu, dan pengalaman menghadapi tanjakan tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup kami. Walaupun kini tidak selalu mengayuh bersama, semangat TAWES MASGOTO tetap menjadi pengingat bahwa pernah ada masa ketika kami menikmati banyak perjalanan dalam satu kebersamaan.
Setiap kali melihat foto lama atau mendengar nama sebuah tempat yang pernah dikunjungi, kenangan seolah hidup kembali. Kita teringat suasana perjalanan, wajah teman-teman, dan kebahagiaan sederhana yang pernah kita nikmati bersama.
.
Mengayuh Menuju Senja. Bagi saya, bersepeda setelah pensiun memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar olahraga.
Bersepeda menjaga tubuh tetap aktif, pikiran tetap segar, dan hati tetap bahagia. Lebih dari itu, bersepeda membuka kesempatan untuk menjalin persahabatan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Kini, ketika usia terus bertambah, saya semakin menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang pekerjaan, jabatan, atau pencapaian. Hidup juga tentang bagaimana kita menikmati waktu, menjaga kesehatan, merawat persahabatan, dan mensyukuri setiap kesempatan yang diberikan Tuhan.
Judul âRide into Duskâ menjadi gambaran perjalanan itu: terus mengayuh menuju senja kehidupan.
Senja bukan berarti semuanya telah berakhir. Senja adalah waktu untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui, mensyukuri setiap pengalaman, dan menikmati sisa perjalanan dengan hati yang damai. Mungkin tenaga tidak lagi seperti dahulu. Mungkin perjalanan tidak lagi sejauh dulu. Namun, semangat untuk tetap sehat, bersukacita, dan menjaga persaudaraan hendaknya tidak pernah padam.
Perjalanan hidup tidak jauh berbeda dengan perjalanan bersepeda. Ada jalan yang mulus, ada tanjakan yang berat, ada saatnya kita melaju cepat, dan ada saatnya kita harus memperlambat langkah,yang membuat perjalanan bermakna bukan hanya tujuan akhirnya, melainkan teman-teman yang pernah hadir dan pengalaman yang kita bagi sepanjang jalan.
TAWES MASGOTO: Lebih dari Sekadar Komunitas Sepeda
TAWES MASGOTO bukan sekadar kumpulan orang yang memiliki hobi bersepeda. Komunitas ini adalah bagian dari perjalanan hidup, tempat persahabatan tumbuh, pengalaman dibagikan, dan kenangan diciptakan. Kami pernah mengayuh bersama dari TMII, menjelajahi berbagai kota, menikmati keindahan Sukabumi dan Salabintana, melewati jalur Wanayasa, menyaksikan pesona Kawah Putih, hingga menikmati panorama Gunung Nona di Ambon serta berbagai tempat lainnya di Nusantara.
Kami pernah mengikuti touring, menjelajahi jalur pegunungan, berpartisipasi dalam balapan di Sudirman, dan mengikuti berbagai event di luar daerah. Kami juga menikmati momen sederhana: makan bersama setelah bersepeda, berbincang tentang perjalanan, dan berfoto untuk mengabadikan kebersamaan.
Kini, mungkin sebagian dari kami mengayuh sendiri-sendiri. Namun, setiap kayuhan tetap membawa kenangan tentang teman-teman yang pernah bersama dalam perjalanan. Sebab, pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah seberapa banyak kilometer yang telah ditempuh, melainkan berapa banyak persahabatan yang telah terjalin dan kenangan yang telah tercipta.
Satu Sepeda, Seratus Teman. Satu Kayuhan, Sejuta Kenangan.
Ride into Dusk â Mengayuh bersama dalam kenangan, melanjutkan perjalanan masing-masing, dan menua dengan bahagia hingga senja.
Padatkan pengulangan antarbagian utama
Tambahkan pembuka yang lebih personal
Susun kronologi perjalanan lebih jelas
Oleh : Monang Sihombing



