indonesiakusatu.com – Ir.Tarmizi, M.Sc. Kakanwil DJP Sumatera Barat dan Drs. Augus Hendra Simatupang, Ak., M.Si., M.H. CA., CHH, CHI (Alumni USU & UNAND) diskusi Penguatan dan peningkatan penerimaan Negara dari sektor Pajak.
OPINI: Menakar Peluang “Duet Teknokrat Finansial” Drs. Augus Hendra Simatupang di Pilkada Pasaman Barat
Oleh: Sangap Tua Ritonga
Kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Pasaman Barat selalu menyajikan dinamika politik yang unik. Sebagai daerah dengan kekayaan sumber daya makro seperti kelapa sawit dan jagung yang melimpah, Pasaman Barat ironisnya sering kali terbentur pada persoalan klasik: tata kelola anggaran dan optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang belum bergerak maksimal. Di tengah kejenuhan publik akan pola kepemimpinan yang sekadar populis, muncul sebuah gagasan politik segar yang memikat: kehadiran sosok Drs. Augus Hendra Simatupang, Ak., M.Si., M.H., CA., CHH, CHI., seorang mantan Pejabat Senior Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sekaligus alumni Universitas Andalas (UNAND), yang menawarkan narasi “Teknokrat Finansial”.
Bagaimana peluang dan tantangan tokoh muda ini dalam mendobrak kemapanan politik lokal di Pasaman Barat?
Rekam Jejak Teritorial: Bukan “Orang Asing” di Ranah Minang
Satu modal politik paling mendasar yang kini melengkapi profil Augus Hendra Simatupang adalah rekam jejak pendidikannya yang sangat “Sumatra Barat”. Menamatkan SMP pada tahun 1977 di Sungai Dareh, Pulau Punjung (sekarang Dharmasraya), lalu melanjutkan SMA di Kota Tambang Sawahlunto hingga lulus tahun 1980, menunjukkan bahwa masa remaja Augus Hendra dihabiskan dengan menyelami realitas sosiologis masyarakat urban dan rural di ranah ini.
Puncaknya, beliau memasuki Fakultas Ekonomi Universitas Andalas (FE UNAND) pada tahun 1983 dan meraih gelar sarjana pada 1988. Perjalanan akademis lintas daerah iniâdari Dharmasraya, Sawahlunto, hingga Padangâmenepis anggapan bahwa beliau adalah figur pusat yang asing bagi dinamika lokal. Augus Hendra adalah produk asli rahim pendidikan Sumatra Barat yang kemudian mengabdi di level nasional dan kini siap pulang membawa keahliannya.
Melawan Stigma “Menara Gading” dengan Program Berbasis Dompet Rakyat
Satu hal yang tidak bisa dipungkiri, kultur pemilih di Pasaman Barat sangat menyukai figur yang humble, populis, dan rajin turun ke jorong-jorongâkarakteristik yang selama ini melekat pada tokoh-tokoh lokal seperti Hamsuardi atau Yulianto. Kehadiran Augus Hendra Simatupang yang berlatar belakang birokrat pusat rentan terjebak dalam stigma “Menara
GadingӉdianggap terlalu formal, kaku, dan berjarak dengan masyarakat akar rumput (grassroots).
Namun, dengan latar belakang FE UNAND ’83, Augus Hendra memiliki keunggulan komparatif. Jualan politiknya tidak boleh berhenti pada istilah elite seperti “reformasi birokrasi”. Beliau harus mampu menerjemahkan keahlian finansialnya ke dalam bahasa dapur masyarakat. Narasi makro harus diubah menjadi solusi mikro: bagaimana tata kelola keuangan daerah yang ahli bisa menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi tepat waktu bagi petani sawit, atau bagaimana insentif fiskal daerah mampu menarik investor untuk membangun pabrik pengolahan (hilirisasi) sehingga harga jagung milik petani lokal menjadi stabil. Di sinilah kompetensi finansial beliau bertransformasi dari sekadar angka menjadi solusi kesejahteraan konkret.
Menavigasi Geopolitik Etnis dan Jaringan Alumni
Pasaman Barat adalah miniatur Indonesia kecil dengan struktur sosiologis multietnis yang kental: perpaduan antara kultur Minangkabau (pesisir dan darat), Mandailing/Batak (wilayah utara/perbatasan), serta Jawa (kawasan eks-transmigrasi).
Secara geopolitik, marga Simatupang yang disandang Augus Hendra merupakan modal politik yang sangat kuat untuk mengunci basis massa primordial di wilayah perbatasan Sumatra BaratâSumatra Utara, seperti Ranah Batahan atau Lembah Melintang. Namun, tantangannya adalah bagaimana agar kekuatan ini tidak memicu resistensi dari klaster etnis lain.
Di sinilah Gerbong Solid IKA UNAND memegang peranan krusial. Angkatan 80-an (FE UNAND ’83â’88) saat ini berada di usia matang dan menduduki posisi-posisi strategis di berbagai lini birokrasi, swasta, dan tokoh masyarakat di Pasaman Barat. Jaringan alumni yang masif ini dapat bertindak sebagai jembatan inklusif untuk mencairkan sekat-sekat etnis tersebut, sekaligus memposisikan Augus Hendra Simatupang sebagai figur pemersatu yang membawa misi kemajuan daerah.
Menembus Tembok Tiga Poros Kekuatan Lokal
Jika resmi maju, Augus Hendra Simatupang akan langsung berhadapan dengan raksasa politik lokal yang menguasai basis massa grassroots: Poros Petahana (Yulianto-Ihpan) yang memegang kendali birokrasi, Poros Golkar (Daliyus K.-Heri Miheldi) yang solid secara struktural, serta Poros Hamsuardi dengan pemilih fanatik program populisnya (Berobat Gratis).
Strategi terbaik bagi seorang pendatang baru (challenger) teknokrat bukanlah menyerang program populis yang sudah dicintai rakyat, melainkan menawarkan keberlanjutan yang realistis. Augus Hendra bisa masuk dengan tesis bahwa program sosial yang baik hanya bisa bertahan lama jika ditopang oleh kesehatan fiskal daerah yang dikelola oleh seorang ahli keuangan. Selain itu, kedekatan historis alumni UNAND lintas partai di
tingkat pusat harus dimanfaatkan untuk mengamankan tiket koalisi parpol papan atas di level DPP/DPW, mendahului manuver faksi lokal.
Formula Ideal: Sinergi “Otak dan Jantung” Daerah
Untuk meredam kekakuan birokrat pusat, simulasi memasangkan Augus Hendra Simatupang (sebagai Calon Bupati) dengan Tokoh Adat Pemegang Gelar Datuak (Ninik Mamak) dari wilayah Selatan atau Pesisir (seperti Kinali atau Talamau) adalah langkah taktis yang sangat jitu. Kombinasi ini memenuhi asas keseimbangan geopolitik (Utara-Selatan) sekaligus etnis (Mandailing-Minang).
Pasangan ini akan menjadi representasi “Otak dan Jantung” daerah. Augus Hendra Simatupang sebagai “Otak” yang mengeksekusi digitalisasi pelayanan, tata kelola anggaran, dan penyerapan investasi strategis (seperti akselerasi Pelabuhan Teluk Tapang). Sementara sang Ninik Mamak bertindak sebagai “Jantung” yang mengamankan legitimasi kultural, menyerap aspirasi komunal di jorong-jorong, dan mempermudah negosiasi tanah ulayat untuk pembangunan berdasarkan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Kesimpulan
Langkah awal Test the Water (Uji Ombak) yang dilakukan Augus Hendra Simatupang melalui kegiatan sosial-kebudayaan dan pendekatan dini ke parpol sudah berada di jalur yang benar. Jejak historisnya yang mengakar dari Sungai Dareh hingga Sawahlunto, serta kematangan intelektual dari FE UNAND, adalah modal bahwa beliau paham denyut nadi daerah ini.
Jika Augus Hendra Simatupang mampu mengonversi keahlian keuangannya menjadi narasi yang membumi, menggerakkan mesin alumni secara militan, dan menggandeng tokoh adat yang tepat sebagai jangkar kultural, maka sang teknokrat senior ini bukan lagi sekadar alternatif, melainkan kandidat kuat yang siap meruntuhkan dominasi poros politik lama di Pasaman Barat.



