indonesia.com – Geopolitik mengguncang pererkonomian, paradoks itulah yang paling tepat menggambarkan momen yang kita hadapi hari ini.
Ini bukan dalam pengertian dramatis yang biasa kita dengar dari para komentator televisi, melainkan dalam pengertian yang jauh lebih tektonik: fondasi tatanan ekonomi global yang dibangun selama tujuh dekade pasca-Perang Dunia II — liberalisme perdagangan, dollar sebagai mata uang cadangan, dan multilateralisme WTO sedang retak dari dalam. Amerika Serikat, yang selama ini menjadi jangkar sistem ini, kini justru menjadi sumber turbulensinya.
Sekarang ini diperkirakan total utang federal Amerika Serikat kini melampaui USD 36 triliun angka yang lebih besar dari gabungan PDB seluruh negara Uni Eropa. Dalam dua belas bulan ke depan, sekitar USD 9,2 triliun dari utang itu jatuh tempo dan harus diperbarui kali ini dengan bunga yang jauh lebih tinggi, sekitar 4 hingga 5,5 persen. Beban bunga utang AS diproyeksikan melampaui anggaran pertahanan mereka untuk pertama kalinya dalam sejarah. Moody’s, lembaga pemeringkat terakhir yang masih mempertahankan predikat AAA untuk Amerika, akhirnya ikut menurunkan peringkat negeri itu. Bagi saya, ini bukan sekadar angka ini adalah sinyal bahwa hegemoni fiskal AS sedang terkikis secara struktural.
Semua ituatas pemerintahan Trump 2.0 menambahkan bahan bakar ke dalam api dengan memberlakukan tarif impor universal 10 persen atas semua barang masuk ke AS, ditambah tarif 145 persen khusus untuk produk-produk Tiongkok. Ini bukan lagi kebijakan perdagangan ini adalah pembongkaran sistematis terhadap aturan main yang sudah disepakati 160 negara selama tiga dekade terakhir. Dunia merespons: Tiongkok membalas, Eropa mempertimbangkan retaliasi, dan seluruh rantai pasok global sedang dalam mode panik kalkulasi ulang.



